Minggu, 21 Juni 2009

PERJALANAN YANG INDAH

Di pagi yang cerah saya menunggu taxi dengan muka yang berseri, karena hari itu saya akan berangkat untuk mengikuti opserpasi lahan basah ke daerah yang belum bisa saya kunjungi. Rawa bangkau dan Loksado itulah tempat yang ternyata kami kunjungi, walaupun ini sebenarnya bukan untuk rekreasi melainkan bertujuan untuk mengenalkan kita pada lahan basah yang ada pada kalimantan selatan.

Ternyata dua pertiga luas kalimantan selatan berupa rawa yang mungkin selama ini kita tak menyadarinya. Misalnya saja di rawa bangkau, disini masyarakat banyak menternakkan kerbau rawa sedangkan kita ketahui di wilayah indonesia yang terdapat kerbau rawa hanyalah di daerah kalimantan selatan.Disini masyarakatnya kalau kita tinjau dari pembangunan daerah sudah bisa kitakan cukup mapan / berkecukupan, namun yang membuat kita resah iyalah aliran sungai yang semakin keruh dan kurang terawatnya, serta erosi atau pengikisan tepian sungai. Ini sebenarnya bisa berdampak negatif bagi kelangsungan masyarakat di sana maupun kelangsungan sungai itu sendiri.

Saya beserta rombongan menyusuri sungai negara sebelum memasuki kawasan rawa bangkau, disini saya bayak menemukan eceng gondok(ilung) yang bertebaran di aliran sungai, bayaknya sampah rumah tangga yang dibuang ke aliran sungai, serta kurangnya penyiringan aliran sungai yang berfungsi banyak untuk menahan erosi atau abrasi akibat arus sungai. Setelah kami sampai di tengah rawa disana bayak terdapat eceng gondok(ilung) yang sengaja dibudidayakan oleh masyarakat, dan ternyata walaupun eceng gondok ini menghasilkan co2 tetapi juga sangat bermanfaat untuk menyerap unsur logam atau logam berat lainnya yang ada di rawa tersebut.

Sore itu kami pulang ke kandangan untuk beristirahat melonggarkan saraf-saraf yang kaku dan menyiapkan tubuh untuk berangkat ke loksado pada esok harinya. Hari yang cerah membangkitkan diri ku untuk mencari data tentang loksado sebanyak mungkin, dengan dimodalkan GPS, alat pengukur PH, alat pengukur kejernihan air,dll. Setibanya kami di sungai amandit aku sangat bersemangat untuk mencari data sebanyak mungkin. Dari mengukur PH, kuat arus, sampai mengukur debet air sungai amandit.

Matahari yang semakin tinggi mengisyaratkan kami harus mengisi perut kami yang mulai mengguncangkan tubuh kami, sore ini kami akan menjelajahi sungai amandit dan merasakan kehangatan pemandian air panas, dan dimalam itu diadakanlah debat terbuka antara sesama kami semua tentang hasil yang kami dapat selama observasi.

Setelah lama kami observasi dari berbagai tampat, maka yang dapat kita manfaatkan dari wara bangkau iyalah sinar mataharinya yang cukup untuk kita jadikan sebagai tenaga surya altarnatif, keceng gondok yang berpungsi untuk menyerap logam berat dan tampat makan ikan-ikan kecil dan sebagai siklus kehidupan dirawa bangkau, dan perternakan kerbau rawa. Adapun loksado kita bisa menjadikan kawasan ini sebagai kawasan wisata, karena alamnya yang masih alami dan belum terjamah oleh tangan-tangan usil.

JAWABAN UNTUK MIDDLE TEST

1 ). Peranan lahan basah dalam siklus hidrologis dapat dijelaskan sebagai berikut.

  • Sebagai pengontrol kualitas air, di mana lahan basah sebagai kawasan strategis yang memisahkan ekosistem daratan dengan ekosistem akuatik, sehingga dalam posisinya ini, lahan basah dapat mencegah air larian dari daratan dan menyaring bahan polutan dan sedimen sebelum masuk ke badan air. Fungsi ini didukung oleh vegetasi yang terdapat di kawasan lahan basah yang dapat memfilter substansi kimia tertentu sekaligus mengambil nutrisi dari tanaman mati yang berpotensi menurunkan kualitas air secara dominan pada ekosistem akuatik.

  • Sebagai pengisi air tanah, terutama dijalankan oleh dataran banjir, rawa air tanah, danau, lahan gambut, dan hutan rawa. Peran ini tidak hanya terbatas pada pengisian air tanah saja, tapi juga sekaligus menjadi tempat pelepasan air tanah sebelum menuju ke badan air (sungai permukaan). Antara kedua fungsi ini, perlu adanya keseimbangan dalam mekanismenya.

  • Sebagai habitat ikan dan organisme liar (wildlife). Pada fungsi ini, lahan basah merupakan tempat ideal bagi berkumpulnya berbagai macam hewan (ikan, burung, reptil, dan insekta) dan tumbuhan. Sebagian di antara mereka menjadikan lahan basah sebagai habitat,sebagian lagi menjadikan ini hanya sebagai tempat persinggahan untuk mencari makan. Atas dasar ini, lahan basah telah menajdi bagian penting dalam lingkungan wildlife.

  • Sebagai pengontrol abrasi bibir pantai & tepian sungai, didukung oleh karakter vegetasi lahan basah (seperti bakau, rambai, eceng gondok). Sistem perakarannya dapat memperlambat kelajuan air dan mereduksi energi gelombang, sementara batang & daunnya memperlambat arus air. Pada beberapa tipe lahan basah, walaupun tidak bervegetasi (seperti saluran irigasi), kemiringan alami lahan basah dapat menjadi buffer untuk erosi tepian sungai.

  • Sebagai pelindung banjir, lahan basah dapat memperlambat sekaligus menjadi tempat penyimpanan sementara air hujan (untuk rawa lebak) dan dari daerah hulu serta air pasang (untuk rawa pasang surut). Kemampuan vegetasi lahan basah untuk memperlambat arus air dikombinasikan dengan kemampuannya sebagai lahan serapan sangat menentukan keberhasilan dalam mereduksi debit air yang datang. Peran ini dijalankan oleh semua bentuk lahan basah, kecuali sistem pantai terbuka.

Terkait dengan peranan lahan basah di Kalimantan Selatan, ini dipengaruhi oleh beberapa parameter di mana dengan tipe lahan basah didominasi oleh rawa yang merupakan tipe lahan basah dengan fungsi dan keunikan yang khas. Untuk penilaiannya, saya mencoba menggunakan sistem skor sebagai indikator dengan rentang (1) berarti sangat jelek sampai dengan (10) yang berarti sangat baik untuk masing-masing peran di atas.

  1. Sebagai pengontrol kualitas air ( skor 7)

Secara umum, fungsi ini masih dapat berperan dengan cukup baik. Khususnya daerah rawa di Kalsel yang masih memiliki eceng gondok serta tanaman iar laninya dengan jumlah seimbang untuk ekosistem lokal rawa. Tanaman-tanaman ini mampu mereduksi kandungan logam berat yang terdapat dalam perairan. Meski di lapangan fungsi ini tampak sedikit menurun daya dukungnya akibat kuantitas polutan yang juga semakin bertambah.

  1. Sebagai pengisi air tanah ( skor 8)

Peran ini masih dapat berjalan dengan baik. Sebagai contoh pada beberapa tempat, seperti Banjarbaru sampai Martapura, terdapat kandungan air tanah dalam jumlah memadai yang mana lahan basah berupa Sungai Martapura dan daerah Tungkaran memegang peranan penting dalam pengisian dan pelepasan air tanah.

  1. Sebagai habitat ikan dan organisme liar ( skor 8)

Secara umum, fungsi ini juga berjalan dengan baik di mana pada beberapa daerah seperti Pulau Kaget dan Pulau Kembang, peran ini terlihat dominan. Meski tisak begitu beragam, fauna seperti kera, burung dan ikan-ikan kecil dapat hidup dengan baik tanpa ada faktor pengancam yang bisa memberikan dampak serius.

  1. Sebagai pengontrol abrasi (skor 7)

Pada beberapa tempat, peran ini nampak berjalan dengan baik karena vegetasi-vegatasi yang ada masih mampu melakukan fungsinya dalam mereduksi energi gerakan air. Walaupun dalam sebelumnya terjadi penurunan daya dukung untuk peran ini, dalam beberapa tahun belakngan telah dilakukan sejumlah upaya perbaikan dengan penanaman vegetasi seperti pohon bakau dan pohon rambai di pinggiran pantai dan muara yang langsung berbatasan dengan perairan yang memiliki energi gelombang lumayan besar, seperti di daerah Pulau Kaget,

  1. Sebagai pelindung banjir (skor 6)

Fungsi tidak berjalan dengan baik. Seiring dengan semakin gencarnya penebangan hutan di hulu Pegunungan Meratus, maka air hujan yang jatuh di bagian hulu mengalir dengan deras ke bagian hilir sehingga banyak lahan basah, khususnya yang ada di bagian hilir, berada di ambang daya dukung dalam menampung air aliran ini. Akibatnya, daerah hilir seperti Banjarmasin, wilayah Tanah Bumbu hingga beberapa wilayah Hulu Sungai seringkali rawan banjir.

2). Diketahui :

Curah hujan rata – rata di Peg. Meratus 1000 M liter/bulan,

80 % menjadi air larian = 80 % x 1000 = 800 M liter/tahun = 800.000.000 liter/bulan

= 9.600.000.000 liter/tahun.

Dari keseluruhan volume ini, 1.800.000 liter/tahun di antaranya mengalir melalui Sungai Riam Kiwa.

dari S.Riam Kiwa, bisa terairi 100 hektar lahan (masing-masing 9000 liter/tahun),

9.000 liter/tahun x 100 = 900.000 liter/ tahun air digunakan untuk mengairi lahan,

sisa 900.000 liter/tahun lainnya terevaporasi dan evapotranspirasi.

Perbandingan debit air yang mengairi lahan dengan yang terevaporasi & evapotranspirasi 1 : 1

Dari volume keseluruhan, tersisa 9.598.200.000 liter/tahun mengalir ke Sungai Riam Kanan,

Sungai Amandit, Sungai Batang Alai, Sungai Alabio, dan Sungai Tabalong (perbandingan debit

air 1:1:1:1:1), yang mana untuk masing-masing sungai, 9.598.200.000 liter / 5 = 1.919.640.000

liter / tahun.

Jika perbandingan volume air yang terevaporasi dan terevapotranspirasi dengan volume air yang mengairi tiap-tiap sungai sama dengan yang terjadi pada sungai Riam Kiwa (50% : 50%), maka volume yang terevaporasi & terevapotranspirasi adalah

50% x 1.919.640.000 liter = 959.820.000 liter/tahun

Untuk peranan vegetasi dalam melakukan evapotranspirasi pada masing-masing sungai, dimana perbandingan total evaporasi dan evapotranspirasi adalah 1 : 2, maka dengan total volume evaporasi dan evapotranspirasi 959.820.000 liter/tahun,

  • volume yang terevaporasi untuk setiap sungai : 1/3 x 959.820.000 = 329.940.000 liter/tahun

  • volume yang terevapotranspirasi : 2/3 x 959.820.000 = 639.880.000 liter/tahun.


3). Perbedaan antara rawa lebak dan rawa pasang surut adalah sebagai berikut :

  • Untuk rawa pasang surut :

        • Ketinggian air yang menggenangi dipengaruhi oleh pasang surut air laut.

        • Airnya payau, bahkan pada saat pasang naik, bisa menjadi asin. Tergantung pada letaknya dari laut.

        • Letaknya tidak begitu jauh dari laut. Kalaupun agak jauh, masih dihubungkan dengan sungai yang langsung bermuara ke laut.

        • Vegetasi yang utama adalah tanaman bakau, nipah (tanaman dengan sistem perakaran yang mampu memecah ombak).

  • Untuk rawa lebak (tergenang) :

  • Ketinggian air relatif tetap, kecuali pada kondisi musim dengan curah hujan sangat tinggi. Tapi meski ada perubahan, tidaklah signifikan.

  • Airnya tawar dengan pH normal.

  • Letaknya jauh di daerah hulu, tertutup (tidak terhubung dengan laut) dan umumnya terletak di dareah cekungan.

  • Biasanya ditumbuhi vegetasi berkayu, juga eceng gondok dan kangkung yang merupakan tanaman dominan.


Sabtu, 06 Juni 2009

KUALA, PANORAMA ALAM , DAN BIODIVERSITAS

Memberikan informasi dan menjelaskan perbedaannya yang dilihat dari aspek lanscape dan biodiversity, Pertama menentukan posisi (titik Koordinat) (1) Hudson Bay (2) Mekong River (3) Teluk Tomini. Kedua menjelaskan perbedaan ke tiga lokasi tersebut sebagai kawasan kuala (dilihat dari aspek lanscape dan biodiversity). Dan yang terakhir menjelaskan produk alami dan jasa atau manfaat dari kuala.

Perbedaan antara ketiga lokasi tersebut sebagai kawasan kuala adalah Kuala merupakan kawasan yang terletak di muara sungai, tempat dimana air tawar (sungai) bertemu dengan air laut. Air laut mempunyai tingkat salinias sekitar 35 ppt sedangkan air tawar dapat berkisar 0 – 35 ppt (part per thousand). Adapun perbedaan dari ke tiga kawasan tersebut sebagai kuala adalah apabila Hudson Bay merupakan daerah berbatasan dengan air tanah pada tiga sisinya. Hal ini juga biasanya memiliki air tenang. Banyaknya bay mungkin disebut teluk, teluk kecil, suara atau teluk. Teluk sempit ( Gulf of Tomini) juga dapat disebut fjord jika para pihak yang relatif curam. Sebagian besar teluk kecil yang dibentuk seperti batu atau tanah liat lunak adalah eroded oleh gelombang. Setiap hard rock eroded adalah kurang cepat, sehingga . Apapun bay mungkin berisi ikan dan makhluk laut lainnya atau bersebelahan dengan teluk lainnya.Sedangkan Mekong river, adalah sungai tepanjang di Asia Tenggara, yang berair tawar karena itulah kawasan ini dijadikan kawasan konservasi karena memiliki nilai konservasi penting yaitu perlindungan keanekaragaman jenis flora dan fauna beserta tipe ekosistem hutan mangrove.
Produk alami dan jasa atau mamfaat dari kuala tak lain adalah menjadi salah satu kawasan yang sangat produktif, menjadi tempat mencari makan (feeding ground), tempat perkawinan (breeding ground) bagi berbagai jenis ikan dan bahkan terdapat sarang yang menjadi tempat tinggal bagi jenis hewan lainnya. Mereka semua bergantung kepaa kekayaan makanan yang tersedia di kawasan kuala itu. Selain itu, manusia juga menggantungkan sebagian hidupnya di kawasan kuala ini, mulai dari mencari makan, pekerjaan perekonomian serta rekreasi. Dari 33 kota besar di dunia, 22 kota terletak di kawasan kuala.

Kuala merupakan tempat yang terletak di muara sungai, tempat dimana air tawar (sungai) dan air laut bertemu dengan kata lain kuala merupakan salah satu kawasan yang sangat subur, disini terdapat berbagai jenis flora dan fauna yang unik karena lingkungannya menyediakan hara yang banyak akibat pertemuan antara air tawar dan air laut, sehingga menjadi air payau. Ini merupakan salah sati produk alami dari kawasan kuala disamping flora dan fauna yang ada. Produk alami yang dihasilkan dari kuala (estuari)selain itu adalah antara lain adalah ikan-ikan segar, diantaranya yang terkenal di Indonesia adalah ikan Hilsa toly, Hilsa elongata, Setipinna tatty, dan Lutjanus lutjanus, Lates calcalifer, dan Arius thalassinus. Selain itu daerah kuala juga menjadi salah satu daerah penghasil garam. Sedangkan jasa atau manfaat dari kuala antara lain adalah sebagai navigasi, budidaya laut, rekreasi, pengembangan pemukiman, dan pembuangan limbah. Selain nilai pakai langsung tersebut, estuari saat ini dikeringkan untuk produksi pertanian seperti di Segara Anakan, Cilacap.Kawasan ini sangat penting karena menyediakan berbagai produk biologis dan ekonomi serta layanan lainnya. Selain menjadi habitat berbagai organime, kawasan ini juga merupakan penentu kebersihanan kesehatan lautan. Kawasan ini berfungsi sebagai filter dari berbagai kotoran, sampah dan material erosi yang berasal dari sungai menuju ke laut. Ini merupakan salah satu jasa dari kawasan kuala tersebut.Estuari (kuala) merupakan habitat permanen berbagai jenis kerang-kerangan, ikan dan kepiting. Bahkan merupakan hunian untuk buaya muara. Kuala juga merupakan kawasan persinggahan berbagai jenis burung alam kegiatan migrasinya. Kuala merupakan pusat kegiatan ekonomi bagi kumunitas pesisir. Selain itu juga menyediakan kawasan rekreasi.Pergerakan air di kawasan kuala mentransportasikan berbagai organisme, mensirkulasikan nutrisi dan oksigen, mentransportasikan limbah dan sedimen. Sekali atau dua kali pasang mendorong air laut yang mengandung kadar garam untuk memasuki kawasan kuala.Selain itu, manfaat dari genangan dan aliran air pada bagian daratan kawasan kuala membentuk parit-parit (tidal-creek) yang berliku-liku dan kadang-kadang selalu tergenangi oleh sisa air dikala surut. Cekungan ini menjadi tempat ikan-ikan dapat terus bertahan. Sedangkan pada kawasan lapisan lumpur (mud flat) berkadar garam tinggi mengandung peat hasil dari pembusukan material organis di perairan. Tempat ini seperti lapangan, dimana hewan-hewan pembuat lubang-lubang singgah dan mengembangkan habitatnya.